logo_638.jpg
0-Home | Halaman 2

Tahun 1965 tahun ajaran baru saya dijemput kembali oleh ibu kandung dan disekolahkan kembali mengulang di SMPN 1 Permiri. Namun baru beberapa bulan sekolah, peristhwa G30S memporak porandakan seluruh kehidupanku. Bapak dan Ibuku dijemput oleh tentara dan ditahan. Kabar terakhir orang tuaku meninggal di tahanan pulau kemarau (tempat orang2 PKI ditahan CPM) ditengah sungai musi Palembang. Saya seperti anak ayam kehilangan induk. Tidak punya sanak famili, semua kenalan orang tua terlibat g30s dan kalaupun mereka ada yang tak ditahan tapi dikenakan wajib apel tiap hari. Suasana waktu itu sangat mencekam. Semua orang takut menolong aku dan memilih cuci tangan. Aku sedih, bingung mau kemana, bagai mana bertahan hidup sendiri tanpa rumah dan tempat tinggal. Saya berjalan tanpa arah tujuan dan makan dari belas kasihan orang2 yang tak saya kenal. Bantu orang naik turunkan barang dagangan dari mobil penumpang dipasar, tidur di stasiun dan diemper toko. Jadi kernet mobil pasir batu untuk dapat sesuap nasi. Betisku luka kena besi ketika aku melompat dari truck dan infeksi. Jadi koreng bau busuk dan saya di jauhi orang karenanya. Bertahan sampai tahun 1967 keadaan seperti itu, dan suatu ketika saya nekat pergi ke kota Palembang naik kereta api diesel pertama ada dari Lubuk Linggau. Sesampainya dikota Palembang saya menikmati indahnya sungai musi, stasiun kertapati, dan jembatan Ampera. Ketika malam tiba, saya bermaksud tidur dibawah tiang jembatan Ampera atau didepan masjid Agung atau di air mancur. sembari menunggu malam sepi, aku duduk di tepian air mancur sambil liat orang kota lalu lalang. Perut keroncongan. kuliat kiri kanan tak ada apapun sisa makanan kek. Sampai tiba2 seorang pemuda mendekatiku dan menawarkan rokok dan membelikan makanan empek empek dari penjaja makanan yang lewat.
Saya merasa berterimakasih untuk kebahkannya.